MANUSIA-MANUSIA SYAWAL

MANUSIA-MANUSIA SYAWAL

Ramadhan adalah bulan Al-Quran, bahkan Rasulullah melakukan muraja’ah (mengevaluasi) Al-Quran dengan bimbingan Jibril a.s. secara langsung. Di bulan ramadhan pula para ulama melipatkan gandakan perhatiannya terhadap Al-Quran. Imam Syafi’i dan Imam Al-Bukhari sampai khatam dua kali sehari selama bulan ramadhan. Usman bin Affan pernah mengungkapkan, “Kita tidak pernah bosan dengan bacaan Quran”. (Ihyâ ‘Ulum Al-Din, 1:500). Allah berfirman, “Jika kalian mengetahui” (QS. Al-Baqarah, 184). Semangat itu dibangun oleh sebuah kesadaran, pengetahuan, dan keyakinan, bahwa dalam ramadhan tersimpan keberkahan yang berlimpah, pahala yang berlipat, dan kesempatan yang berganda. Wajarlah jika para sahabat berujar, “Seandainya seluruh bulan seperti Ramadhan!”.

Bagaimana dengan kita? Ketika masuk pada bulan ini, kita seharusnya dengan penuh kesadaran merasakan diri bergelimang dengan kealfaan dengan beragam penyakit yang bersarang dalam hati. Kealfaan menunaikan kewajiban shalat, kealfaan memperhatikan waktu shalat –meski tidak sampai meninggalkannya, atau kealfaan meninggalkan sunnah-sunnah harian (rawatib, shaum senin-kemis, tahajud, dll). Atau juga sadar akan busuknya hati kita yang sebelum Ramadhan selalu disibukkan oleh aib orang, iri oleh kebaikan-kebaikan yang diterima orang lain, selalu menuntut hak dari orang lain seraya mengabaikan kewajiban diri terhadap orang lain, tidak khusyu dalam shalat, tidak bersyukur dan terus menerus merasa kekurangan, hingga penyakit ri-â al-nâs (ingin dipuji orang) dan al-takabbur (sombong), bahkan –na’uzubillahi min dzalik, melakukan dosa-dosa besar seperti: menyekutukan Allah, durhaka kepada ibu bapak, berzina, dan membunuh. Ataukah kita sadar sesadar sadarnya bahwa diantara harta yang berupa rumah, mobil, perhiasan hingga televisi, komputer, handphone, dan makanan kita masih juga bercampur dengan unsur-unsur ribawi, syubhat, hasil mencuri/korupsi, dan upaya-upaya lain yang tidak diperkenankan oleh Islam.

Dengan sadar betapa kotornya kita, sangat naif jika kita tidak memiliki himmah (cita-cita), ghâyah (tujuan), dan iltizâm (tekad) untuk merubah diri, mensucikan hati, membersihkan harta, sehingga kelak ketika Syawal datang, ia menyambut kita sebagai manusia-manusia baru di bulan Syawal yang telah dibersihkan dari segala Dâ-un (penyakit) dan radhâ-il (kotoran). Ibrahim Al-Nakhai rahimahullâh seolah-olah merangkum aktivitas ramadhan sebagai obat hati yang berkesadaran itu. Ia pun berkata, “Obat hati ada lima perkara: membaca Al-Quran dengan penuh penghayatan, mengosongkan perut (shaum), qiyam al-lail (tahajud/tarawih), beristighfar di waktu shubuh, dan berkumpul bersama orang-orang shalih”. (Al-Tibyan, 46). Wa Allahu a’lam

English Version

Syawwal’s Humans

Ramadan is the month of the Qur’an, even the Prophet did muraja’ah (evaluate) the Qur’an with the guidance of Jibril directly. In month of ramadhan too, ulama took at double attention to the Qur’an. Imam Shafi’i and Imam al-Bukhari finished reading (khatam) Quran two times a day during the month of ramadan. Uthman ibn Affan had expressed, “We never get tired of reading the Koran”. (Ihya ‘Ulum al-Din, 1:500). Allah SWT said, “(That) If All of you know” (Surat al-Baqara, 184). Morale was built by an awareness, knowledge, and belief, that in ramadhan stored abundant blessing, doubled reward, and multiple opportunities. Naturally, the Sahabah’s Rasulullah Saw., said, “If the whole month as Ramadan”.
What about us now? When we signed this month, we ought to feel self-conscious, flush with the various diseases that nested in the heart. Negligent of duty, five time prayer, attention to time –even though not to leave it, or leave daily sunnah (sunnah rawatib, shaum tatawwhu, tahajud, etc.). Or also aware of the decay of our hearts which before Ramadan is always busy with people disgrace, envious of the benefits received by other people, always demanding the rights of others while ignoring the obligations of self to others, not khusyu in prayer, not grateful and continuously feel the lack, until the disease â ri-al-Nâs (praised people) and al-takabbur (over-pride), even –na’uzubillahi min dzalik, doing great sins such as: associating partners with Allah (musyrik), disobedience to the father’s mother, adultery, and kill. Or do we realize that among of the treasure houses, cars, jewelry to televisions, computers, mobile phones, and our food was also mixed with elements ribawi, syubhat, the stealing /corruption, and other efforts that are not permitted by Islam.
By realize how dirty we are, very naive if we do not have Himma (goals), ghâyah (aims), and iltizâm (determination) to transform themselves, to purify the heart (qulb), cleanse the property, so that later when Ramadhan came, he welcomed us as a new human beings –had been cleared of all Dâ-un (illness) and Radha-il (dirt). Ibrahim Al-Nakhai vol sums ramadan activities as a healing tools for illing heart. He also said, “there are five heart drugs case: reading the Qur’an with great appreciation, empty stomach/fasting (shaum), qiyam al-Lail (tahajud / tarawih), Istighfar at the fajr time, and hanging out with righteous people”. (Al-Tibyan, 46). Wa Allahu a’lam

Iklan

ISLAM PUN HARGAI KEMATIAN!

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُهُمْ إِذَا خَرَجُوا إِلَى الْمَقَابِرِ فَكَانَ قَائِلُهُمْ يَقُولُ فِي رِوَايَةِ أَبِي بَكْرٍ السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ وَفِي رِوَايَةِ زُهَيْرٍ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ

Hadits diterima dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya sesungguhnya ia berkata, Rasulullah Saw., apabila keluar dan melewati pekuburan, ia bersabda dalam riwayat Abu Bakar, “Keselamatan kepada ahli kubur!”. Sedangkan dalam riwayat Zuhair, “Keselamatan atas kalian wahai Ahli Kubur dari golongan mukmin dan golongan muslim, dan sesungguhnya kami Insya Allah akan menyusul seraya meminta keselamatan untuk kami dan kalian kepada Allah!”.

Maha Suci Allah! Yang agamanya telah difitnah, yang para pemeluknya disudutkan! Bagaimana sebuah agama yang mengajarkan doa keselamatan bagi yang telah meninggal dituduh sebagai agama yang tidak menghargai nyawa kehidupan!
(Mengenang Skenario ‘Terorisme’ sepanjang 2006-2009)

RAMADHAN REFLECTION’S

SHOULD WE SHAUM?

Yudi Wahyudin

Must we fasting? Why? These all questions important as important shaum it self. The ramadhan’s word came from shape ra-mi-dha (رمض), which means the roasted stone (shafwan). Al-Quran usually used stone to describe rude or bad human. It called the slick stone which describing a gruff heart (see Al-Baqarah, 264), it doesn’t care excessively rained they still bad at the end. In the other side, the garden at the mountain (Jannah birabwah) it’s used to describe a healthy heart, even though rained a bit, the heart become prosperous and full of rahmah inside. That’s why ramadhan took from ra-mi-dha (رمض) shape. It’s demand the consciousness of our self that we have to roast our stone (heart) better then before. So, by entering ramadhan –at the end of course, we’ll become muttaqien who has a heart as Jannah Birabwah that it’s produce billion virtues and values. Insha Allah…

KETAQWAAN

KETAQWAAN
Oleh: Yudi Wahyudin*

Perintah Shaum disebutkan dalam surat Al-Baqarah 183. Dalam kaidah tanâsub al-âyât (keterkaitan antar satu ayat dengan ayat lainnya), ibadah shaum dimaknai sebagai konsep pararel yang Allah sediakan untuk menghantarkan manusia pada derajat ketaqwaan selain sholat, zakat, dan haji. Sedangkan ibadah yang diakhiri dengan ‘Iedaini (dua hari raya ‘Ied) adalah Ibadah shaum dan haji. ‘Iedul Fithri dalam pandangan umum dimaknai sebagai hari ketika semua orang gembira bersua dengan sanak keluarga; berbahagia dalam sebuah kesempatan ketika semua saling memaafkan atas kekhilafan dan ketika seseorang merasa telah lahir kembali (re-birth) dalam keadaan suci. Memang, itu semua tidak salah, karena demikian realitasnya. Bahkan Nabi Muhammad Saw., bersabda, “Barang siapa yang shaum Ramadhan dengan penuh kesungguhan dan keimanan, ia akan kembali lahir dalam kesucian seperti ketika dilahirkan ibunya” (HR. Muttafaq ‘alaih). Persoalannya bagaimana menempatkan re-birth yang dimaksud dalam konteks kekinian dan tidak berhenti sampai pada makna yang begitu personal? Tulisan di bawah ini akan melihat beberapa ayat dalam surat Al-Baqarah mengenai hakikat ketaqwaan seperti yang menjadi tujuan dari ibadah shaum ramadhan.

Al-Baqarah dan Truth Klaim
Taqwa memiliki makna luas dan mendalam yang banyak disebut dalam Al-Quran dengan berbagai dimensi dan derivasinya. Namun dalam Al-Baqarah, makna taqwa harus diletakkan dalam visi besar surat Al-Baqarah itu sendiri yang berbicara tentang ‘latar belakang masalah’ Islam diturunkan di tengah banyaknya pengubahan, penambahan, dan bahkan penambahan millah tauhid oleh Yahudi dan Nasrani. Pararel dengan surat sebelumnya, Al-Fâtihah, yang memberikan tiga prototype manusia yaitu orang yang tercurah nikmat, dimurkai Allah, dan yang tersesat di jalan-Nya (QS. Al-Fatihah, 1:7). Sehingga demikian, Nabi di utus untuk kembali menyempurnakan millah ini hingga menjadi pedoman teguh bagi manusia hingga kiamat.
Dalam surat Al-Baqarah, terdapat banyak ayat yang mencela klaim kebenaran yang diperdebatkan oleh Yahudi dan Nashrani. “Dan mereka (Yahudi dan Nashrani) berkata, api neraka tidak akan menyentuh kami kecuali untuk beberapa saat” (QS. 2:80); “Katakanlah Muhammad, jika Darul Akhirat milik Allah itu diciptakan secara khusus untuk kalian (Nashrani dan Yahudi), maka harapkanlah kematian jika kalian benar” (QS. 2: 95); bahkan mengenai klaim kitab suci yang masih otentik Allah berfirman, “Tidaklah kami hapus satu ayat atau kami jadikan (manusia) lupa padanya, kecuali kami datangkan yang lebih baik darinya atau sebanding dengannya. Apakah kalian tidak mengetahui (jika Dia mengganti satu kitab dengan kitab lainnya itu menunjukkan) bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?” (QS. 2:106). Mengenai klaim siapa di antara mereka yang berhak masuk surga, Allah berfirman, “Dan mereka berkata, sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali Yahudi atau Nashrani” (QS.2:111). Karena terus terjebak dalam klaim kebenaran yang tanpa ujung–seperti yang terjadi saat ini, “Orang-orang Yahudi hingga mengatakan, orang-orang Nashrani tidak memiliki pegangan, demikian juga orang-orang Nashrani berkata, orang-orang Yahudi tidak memiliki pegangan, padahal kedua-keduanya telah membaca Al-Kitab. (Biarlah mereka begitu), sebab Allah yang akan mengadili apa yang mereka perselisihkan tentang hal tersebut”. (QS.2:113).
Fakta mengatakan bahwa sampai saat ini, orang Yahudi dan Nashrani tidak pernah akur mengenai klaim orisinalitas kitab suci mereka. Orang Yahudi mengatakan bahwa injil (perjanjian lama dan baru) yang ada pada orang Kristen dan Katolik saat ini merupakan kitab palsu yang berisi banyak bajakan dari tangan pengkhianat Judaisme, Paulus (Saul) dari Tarsus. Sebaliknya, orang Nashrani balik menyerang Yahudi dengan menantang agar orang Yahudi mendatangkan naskah orisinal Torah (Taurat) yang ditulis Musa jika benar-benar mereka memilikinya saat ini. Penemuan kontemporer pada 1947 mengenai The Dead Sea Scroll (Naskah perjanjian lama) yang berumur lebih dari 2000 tahun di Gua Qumran, Padang Yudea sebelah timur Yerusalem, begitu menghebohkan kedua agama samawi ini. Namun setelah empat dekade sejak penemuannya, banyak rahasia gulungan itu disembunyikan oleh kelompok kecil sarjana yang memegang hak eksklusif atas dokumen tersebut. Barulah pada September 1991, gulungan itu difoto secara diam-diam (dicuri) kemudian disebar melalui pos ke seluruh wilayah negeri itu.
Suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, beberapa naskah gulungan Qumran yang berbahasa Ibrani berbeda jauh dengan naskah Masoret –kitab perjanjian lama yang paling tua yang ditulis sekitar tahun 1005 M. Hal ini mengundang pertanyaan besar, apakah para Masoret yang terkenal teliti itu kurang teliti, ataukah teks Qumran menunjukkan sebagai versi Bible Ibrani lain yang berbeda dengan bible yang dipakai sekarang? Selain itu, naskah Qumran ini menunjukkan kepada kita fakta bahwa Yudaisme abad pertama memiliki persamaan dengan Kristen awal. Sementara itu tidak ada satu kitab pun dari Perjanjian Baru versi konsili Nicaea pada 325 M, yang tertulis dalam naskah Qumran.
Lalu apa kaitannya dengan Ramadhan dan ‘Iedul Fithri? Allah mengingatkan agar umat Islam jangan pernah terjebak di tengah perang klaim kebenaran yang sedang berkecamuk. Benar bahwa seorang muslim dituntut untuk meyakini kebenaran agamanya, bahwa agama yang ia yakini dapat mengantarkannya ke pintu surga hingga ia hidup kekal dalam naungan rahmat-Nya. Ini merupakan harga mati dan tidak bisa ditawar-tawar bahkan termasuk akidah yang ditegaskan dalam surat berikutnya, Ali Imran 19. Namun demikian, Allah SWT mengingatkan kita sebagai muslim agar keluar menjadi “pembukti kebenaran”, bukan sekedar “pengaku kebenaran”.
Di antara muslim yang terjebak wacana truth claim Yahudi-Nashrani dan berada di belakang cita-cita besar kedua agama samawi itu, Arkoun dan Nashr Hamd Abu Zayd adalah orang yang berada pada garda paling depan. Arkoun mengatakan bahwa studi al-Qur’an sangat ketinggalan dibanding dengan studi Bibel (Quranic studies lag considerably behind biblical studies to which they must be compared). Bahkan ia sangat menyayangkan jika sarjana Muslim tidak mau mengikuti jejak kaum Yahudi-Kristian. Nâshr Hâmd Abû Zayd bahkan meyakini, hermeunetik adalah satu-satunya jalan untuk melakukan dekonstruksi Al-Quran dan menyatakan secara agnostik bahwa sakralitas Al-Quran sudah bergeser saat diterima dan disampaikan Nabi Muhammad Saw. Berseberangan dengan mereka para revivalis melakukan pembelaan habis-habisan terhadap ejekan dua sarjana di atas hingga kadang melebihi batas-batas keilmuan.
Alih-alih menghadirkan kebenaran, jebakan truth claim –entah ia berada pada pluralis atau fundamentalis, justru memberikan peluang-peluang bagi revivalis untuk ‘memojokkan agama’ dalam bayangan teror fanatisme yang menyeramkan sebagai antitesa terhadap liberalisme yang kian hari semakin tidak terkendali. Kebenaran itu harus dihadirkan sehingga mampu mengatasi realitas hidup yang penuh tantangan. Dalam Al-Baqarah 148, Allah SWT menegaskan, “Bagi tiap-tiap ummat (yahudi, nashrani, dan muslim) ada kiblatnya sendiri yang ia menghadap padanya, maka berlomba-lombalah dalam berbagai macam kebaikan. Dari mana saja kalian berada, Allah akan mengumpulkan kalian pada hari kiamat, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Ayat ini mengingatkan bahwa menghadirkan kebenaran harus melampaui klaim identitas an sich hingga tidak melacurkan hakikat dari kemusliman sejati (taqwa) yang sebenarnya lebih dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan mendesak hari ini.

Agende Ketaqwaan Hari Ini!
Kemusliman sejati terletak pada “intannya” surat Al-Baqarah, yaitu ayat 177. Allah berfirman, “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat yang disebut dengan kebajikan, akan tetapi yang disebut kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat, dan kepada para nabi. (Yang disebut kebajikan itu juga) memberikan harta kepada yang membutuhkannya di antara kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, ibnu sabil (yang sedang dalam perjalanan), para peminta, (dan mengentaskan) perbudakan. (Termasuk juga kebajikan) mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan orang-orang yang memenuhi janji apabila ia berjanji, dan orang-orang yang bersabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan orang-orang yang bertaqwa”. Ayat ini mengajarkan kepada kita tujuan dari disyari’atkannya Shaum Ramadhan, yaitu mencetak generasi taqwa, sebuah generasi yang tidak sekedar menjadi generasi “pengaku kebenaran”, namun melampaui itu semua menjadi generasi “pembukti kebenaran”.
Alumnus ramadhan seharusnya memahami bahwa ketaqwaan tidak terletak pada tujuan yang bersifat artifisial. Benar bahwa shaum menjadi sah ketika seseorang tidak makan, minum, dan tidak melakukan hubungan intim sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun jika berhenti pada batasan tersebut, ramadhan tidak akan mengantarkan seorang muslim menjadi alumnus yang bertaqwa. Rasul bersabda, “Banyak diantara orang yang shaum yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali haus dan dahaga”. Ketaqwaan kita tidak berhenti pada musyahadah (persaksian) tentang kebenaran Islam. Ketaqwaan menuntut kita untuk menghadirkan kebenaran itu sendiri. Dalam riwayat ‘Aisyah, ketika ia ditanya mengenai akhlak Rasulullah, ia menjawab, “Rasulullah adalah quran berjalan”. Sebagai orang yang paling bertaqwa dan takut pada Allah, beliau berhasil menghadirkan kebenaran hingga terinternalisasi di lubuk orang yang sedang diajak bicara, bergaul dengannya, memandangnya, dan setelah wafat sekalipun. Dalam sebuah riwayat, diceritakan ada seorang nenek-nenek buta miskin dari golongan Yahudi yang begitu membenci beliau. Nabi selalu menyuapinya tanpa diketahui oleh si nenek bahwa yang menyuapinya adalah Muhammad, sesosok manusia yang paling ia benci. Tanpa pamrih dan penuh kesabaran beliau suapi si nenek yang selalu mengeluarkan cacian dan makian itu. Setelah Rasul wafat, tugas suci itu digantikan oleh Abu Bakar. Namun si nenek merasa bahwa cara Abu Bakar menyuapinya sangat berbeda dengan kelembutan orang yang biasa menyuapinya. Ia pun bertanya, “ke manakah perginya orang yang biasa menyuapiku?” Abu Bakar menjawab, “Beliau telah wafat”. Si nenek merasa sedih dengan kesedihan yang mendalam, kemudian ia pun bertanya tentang namanya agar ia bisa mendoakannya dengan penuh khusyu. Abu Bakar menjawab, “Ia adalah Muhammad Rasulullah”. Si nenek terkulai lemas. Dengan bergetar, ia pun mengucap syahadah.
Alumnus Ramadhan seharusnya menjadi muslimin yang beriman kepada Allah, taat pada Rasul, mencintai sesama, amanah, penuh tanggung jawab dengan janjinya, serta bersabar dalam himpitan kehidupan. Sebab setiap kali shaum, ia meniatkan shaumnya untuk Allah dan menjalankannya sesuai aturan dan syariat yang Rasul contohkan. Kemudian ia pun merasakan bagaimana lapar dan haus seperti yang setiap hari dirasakan oleh saudara-saudaranya yang miskin. Selama kurang lebih 14 jam, ia pun diajarkan untuk berlaku jujur dan amanah sebab hanya dia dan Allah yang tahu bahwa ia sedang shaum. Selain itu, ia pun dididik untuk menghindari makanan halal yang didapatkan dengan cara yang dilarang.
Namun saat ini justru kita menyaksikan orang-orang “muslim” yang kontraproduktif dengan idealitas ketaqwaan. Di antara orang yang mengaku “muslim”, masih banyak yang rela menumpahkan darah gara-gara persoalan material dan artifisial; saling tikam gara-gara rebutan pacar, warisan, hingga sengketa tanah. Di antara “muslim” masih banyak yang tidak amanah terhadap jabatannya; mengkorup uang Negara, saling sikut urusan pilkada, dan mengobral janji ketika kampanye. Di antara “muslim” yang menjadi PNS dan karyawan swasta, masih banyak yang tidak produktif dalam bekerja, meluangkan banyak waktu untuk relaksasi dan seringkali makan gaji buta. Diantara “muslim” yang mayoritas miskin, masih banyak yang sudah tidak bisa bersabar dalam himpitan kehidupan hingga menghalalkan segala cara dengan menjadi pencuri, penipu, penjambret, pelacur, penjudi, aksi bunuh diri, stress, hingga parade kemiskinan di setiap sudut stopan. Di antara “muslim” yang dianugerahi kepintaran di sudut-sudut kampus, masih banyak yang tejebak pada klaim kebenaran hingga ia berkubang dalam sudut fanatisme yang tak berujung, entah menjadi fundamentalis atau liberalis.
Seandainya orang muslim sadar tugas sejati dari kemuslimannya ini, segera saja Islam sebagai rahmatan li al-‘âlamîn hadir di setiap sudut di mana saja kita berada. Wa Allahu ’a-lamu

DOA RAMADHAN

اللهمّ سلمنا فى رمضان وسلم رمضان لى وسلّمه مني متقبلا
KAMI SEGENAP ASATIDZAH PESANTREN PERSIS 19 GARUT
MEMOHON MAAF APABILA SELAMA INI KHILAF
SEMOGA RAMADHAN 1430 H INI, MENJADI BULAN EVALUASI,
MENJADI BULAN UKHUWWAH,
DI ATAS TALI RAHMAN-RAHIM ALLAH
DAN SEMOGA SHAUM YANG AKAN KITA JALANI KE DEPAN
DILANDASI IMAN DAN IHTISAB AGAR MENJADI AMALAN YANG
DITERIMA OLEH ALLAH SWT. AMIN

Marhaban Yaa Ramadhan

Ramadhan bulan penuh berkah itu segera akan datang. Sebagai tamu agung kita selayaknya mempersiapkan segala sesuatu yang disukai dan disenangi sang tamu agung. Sebaliknya juga kita harus menyingkirkan segala sesuatu yang tidak disukai dan disenangi sang tamu agung. Namun seringkali, banyak orang telah gagal menyambut tamu agung itu. Di bawah ini kami rangkum beberapa hal untuk mengetahui hal-hal yang dapat membuat tamu agung itu tidak suka.

TANDA GAGAL RAMADHAN

Kurang melakukan persiapan dibulan Sya’ban

Misalnya, tidak tumbuh keinginian melatih bangun malam dengan sholat tahajjud. Begitupun tidak melakukan puasa sunah Sya’ban, sebagaimana telah disunatkan Rasulallah SAW. Dalam hadits Bukhori dan Muslim, dari Aisyah RA berkata, “Saya tidak pernah melihat Rasul berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan, dan saya tidak pernah melihat beliau banyak berpuasa selain di bulan sya’ban.

Gampang mengulur shalat fardhu

“Maka datanglah sesdah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan kecuali orang-orang yang bertaubat dan beramal shalih”. (Maryam:59)

menuru Sa’id bin Musayyab, yang dimaksud dengan tarkush-shalat (meninggalkan shalat) ialah tidak segera mendirikan shalat tepat pada waktunya. Misalnya menjalankan shalat dzuhur menjelang waktu ashar, ashar menjelang maghrib, shalat maghrib menjelang isya, shalat isya menjelang waktu subuh serta tidak segera shalat subuh hingga terbit matahari.

Orang yang bershiam Ramadhan sangat disiplin menjaga waktu shalat, karena nilainya setara dengan 70 kali shalat fardhu di bulan lain.

Malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah

Termasuk didalamnya menjalankan shalat-lail. Mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah merupakan cirri orang yang shalih. “Seseungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdo’a kepada kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami”. (Al-Anbiya:90)

“Dan hamba-Ku masih mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, sampai Aku mencintainya”. (Hadits Qudsi)

Kikir dan rakus pada harta benda

Takut rui mengeluarkan banyak infaq dan shadaqah adalah tandanya. Salah satu sasaran utaman shiyam yaitu agar manusia mampu mengendalikan sifat rakus pada makan minum maupun pada harta benda, karena ia termasuk sifat kehewanan (Bahimiyah). Cinta dunia serta gelimang kemewahan hidup sering membuat manusia lupa akan tujuan hidup sesungguhnya. Mendekat kepada Allah SWT, akan menguatkan sifat utuma kemanusiaan (Insaniyah).

Malas membaca Al-Qur’an

Ramadhan juga disebut Syahrul Qur’an, bulan yang didalmnya diturunkan Al-Qur’an. Orang-orang shalih di masa lalu menghabiskan waktunya baik siang maupun malam Ramadhan untuk membaca Qur’an. “Ibadah umatku yang paling utama adalah pembacaan Al-Qur’an”. (HR Baihaqi) Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menimba dan menggali sebanyak mungkin kemuliaan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Kebiasaan baik ini harus nampak berlanjut setelah Ramadhan pergi, sebagai tanda latihan di bulan suci.

Mudah mengumbar amarah

Ramdhan adalah bulan kekuatan. Nabi SAW berkata : “Orang kuat bukanlah orang yang menang ketika berkelahi. Tapi orang kuat adalah orang yang bisa menguasai diri ketika marah”.

Dalam hadits lain beliau bersabda:” Puasa itu perisai diri, apabila salah seorang dari kamu berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan jangan membodohkan diri. Jika ada seseorang memerangimu atau mengumpatmu, maka katakanlah sesungguhnya saya berpuasa”. (HR Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah)

Gemar bicara sia-sia dan dusta

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta perbuatan  Az-Zur, maka Allah tidak membutuhkan perbuatan orang yang tidak bersopan santun, maka tiada hajat bagi Allah padahal dia meninggalkan makan dan minumnya”. (HR Bukhoti dari Abu Hurairah).

Kesempatan Ramadhan adalah peluang bagi kita untuk mengatur dan melatih lidah supaya senantiasa berkata yang baik-baik. Umar ibn Khattab Ra berkata: “Puasa ini bukanlah hanya menahan diri dari makandan minum saja, akan tetapi juga dari dusta, dari perbuatan yang salah dan tutur kata yang sia-sia”. (Al Muhalla VI:178)

Cirri orang gagal memetik buah Ramdhan kerap berkata dibelakang hatinya. Kalimat-kalimatnya tidak ditimbang secara masak:”Bicara dulu baru berfikir, bukan sebaliknya, berfikir dulu, disaring, baru biucapkan”.

Memutuskan tali silaturrahmi

Ketika menyambut datangnya bulan Ramadhan Rasulallah SAW bersabda: “….Barangsiapa menyambung tali persaudaraan (silaturrahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya….”

Puasa mendidik pribadi-pribadi untuk menumbuhkan jiwa kasih sayang dan tali cinta. Pelaku shiyam jiwanya dibersihkan dari kekerasan hati dan kesombongan, diganti dengan peringai yang lembut, halus dan tawadhu. Apabila ada atau tidak adanya Ramadhan tidak memperkuat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan, itu tanda kegagalan.

Manyia-nyiakan waktu

Al-Qur’an mendokumentasikan dialog Allah AWT dengan orang-orang yang menhabiskan waktu mereka untuk bermain-main.

“Allah bertanya:’Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab:’kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari. Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung’. Allah berfirman:’Kamu tidak tinggal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui’. Maka apakah kamu mengira sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan kamu tidak akan di kembalikan kepada Kami?. Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arsy yang mulia”. (Al-Mu’minum:112-116)

termasuk gagal dalam ber-Ramadhan orang yang lali atas karunia waktu dengan melakukan perbuatan sia-sia, kemaksiatan, dan hura-hura, disiplin waktu selama Ramadhan semestinya membekas kuat dalam bentuk cinta ketertiban dan keteraturan.

Labil dalam menjalani hidup

Labil alias perasaan gamang, khawatir, risau serta gelisah dalam mejalani hidup juga tanda gagal Ramadhan. Pesan Rasulallah SAW:”Sesungguhnya telah dating bulan Ramadhan yang penuh berkah. Allah telah memfardhukan atas kamu berpuasa di dalamnya. Dibuka semua pintu syurga, dikunci semua pintu neraka dan dibelenggu segala syetan. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tiada diberikan kebajikan malam itu, maka sungguh tidak diberikan kebajikan atasnya”. (HR Ahmad,Nasa’i,Baihaqi dari abu Hurairah). Bila seseorang meraih berkah bulan suci ini, jiwanya mantap, hatinya tenteram, perasaannya tenang dalam menghadapi apapun.

Tidak bersemangat mensyiarkan Islam

Salah satu cirri utama alumnus Ramadhan yangberhasil ialah tingkat taqwa yang meroket. Dan setiap orang yang ketaqwaannya semakin kuat ialah tercermin dalam semangat mensyiarkan Islam. Berbagai kegiatan ‘amar ma’ruf nahiy munkar dilakukannya, karena ia ingin sebanyak mungkin orang merasakan kelezatan iman sebagaimana dirinya. Jika semangat ini tidak ada, gagal lah Ramadhan seseorang.

Khianat terhadap amanah

Shiyam adalah amanah Allah yan harus dipeliharaha (dikerjakan) dan selanjutnya dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak. Shiyam itu ibarat utang yang harus ditunaikan secara rahasia kepada Allah. Orang yan terbiasa memenuhi amanah dalam ibadah sir (rahasia) tentu akan lebih menepati amanahnya terhadap orang lain, baik yang bersifat rahasia maupun nyata. Sebaliknya orang yang gagal Ramadhan mudah mengkhianati amanah, baik dari Allah maupun dari manusia.

Rendah motivasi hidup berjama’ah

Frekuensi shalat berjam’ah di masjid meningkat tajam selama Ramadhan. Selain itu lapar dan haus menajamkan jiwa sosial dan empati terhadap kesusahan sesama manusia, khususnya sesama Muslim. Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang berjuang secara berjama’ah, yang saling menguatkan.”Seseungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berpegang di jalan-Nya dalan satu barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh”.

(Ash-Shaf:4) Ramadhan seharusnya menuatkan motivasi untuk hidup berjama’ah.

Tinggi ketergantungannya pada makhluk

Hawa nafsu dan syahwat yang di gembleng habis-habisan selama bulan Ramadhan merupakan pintu utama ketergantungan manusia pada sesama makhluk. Jika jiwa seseorang berhasil merdeka dari kedua mitra syetan itu setelah Ramadhan, maka yang mengendalikan dirinya adalah fikrah dan akhlaq. Orang yang tunduk dan taat kepada Allah lebih mulia dari mereka yang tunduk kepada makhluk.

Malas membela dan menegakkan kebenaran

Sejumlah peperangan dilakukan kaum Muslimin melawan tentara-tentara kafir berlangsung di bulan Ramadhan. Kemenangan Badar yang spektakuler itu dan penaklukan Makkah (Futuh Makkah) terjadi di bulan Ramadhan. Di tengah gelombang kebathilan dan kemungkaran yang semakin berani unjuk gigi, para alumni akademi Ramadhan seharusnya semakin gigih dan strategis dalam membela dan menegakkan kebenaran. Jika bulan suci ini tidak memberi bekal perjuangan baru yang bernilai spektakulaer, maka kemungkinan besar ia telah gagal ber-Ramadhan, serta meninggalkan kita sebagai pecundang.

Tidak mencintai kaum dhuafa

Syahru Rahman, Bulan Kasih Sayang adalah nama lain dari Ramadhan, karena di bulan ini Allah melimpahi hamba-hamba-Nya dengan kasih sayang ekstra. Shiyam Ramadhan menanam benih kasih sayang terhadap orang-orang yang paling lemah di kalangan masyarakat. Faqir miskin, anak-anak yatim dan mereka yang hidup dalam kemelaratan. Rasa cinta kita terhadap mereka seharusnya bertambah. Jika cinta jenis ini tidak betambah sesudah bulan suci ini, berarti anda perlu segera instropeksi.

Salah dalam memahami akhir Ramadhan

Khalifah Umar ibn Abdul Aziz memerintahkan seluruh rakyatnya supaya mengakhiri puasa dengan memperbanyak istighfar dan memberikan shadaqah, karena istighfar dan shadaqah dapat menambal yang robek-robek atau yang pecah-pecah dalam puasa. Menginjak hari-hari berlalunya Ramadhan, mestinya kita semakin sering melakukan muhasabah (instropeksi) diri.

“Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(Al-Hasyr:18)

Sibuk mempersiapkan lebaran

Kebanyakan semua orang sering disibukkan oleh urusan lahir dan logistik menjelang Idul Fitri. Banyak yang lupa bahwa 10 malam terakhir merupakan saat-saat genting yang menentukan nilai akhir kita di mata Allah dalam bulan mulia ini. Menjadi pemenang sejati atau pecundang sejati. Konsentrasi pikiran telah bergeser dari semangat beribadah, kepada luapan kesenangan merayakan Idul Fitri dengan berbagai kegiatan. Akibatnya kita lupa. Seharusnya, muncul rasa sedih berpisah dengan bulan mulia ini.

Idul Fitri dianggap hari kebebasan

Secara harfiyah makna Idul Fitri berarti “Hari kembali ke fitrah”. Namun kebanyakan orang memandang Idul Fitri laksana hari dibebaskannya mereka dari “penjara” Ramadhan. Akibatnya, hanya beberapa saat setelah Ramadhan meningalkannya, ucapan dan tindakan cenderung tak terkendali, syahwat dan birahi diumbar sebanyak-banyaknya. Mereka lupa bahwa Idul Fitri seharusnya menjadi hari dimana tekad baru dipancangkan untuk menjalankan peran khalifah dan abdi Allah secara lebih professional. Kasadaran penuh akan kehidupan dunia yang berdimensi akhirat harus berada pada puncaknya saat Idul Fitri, dan bukan sebaliknya.

Perkara-perkara di atas itu wajib kita hindari agar tamu agung tersenyum kepada kita, memberikan kita berkah dan rahmat -bukan saja dalam bulan Ramadhan, namun pada bulan-bulan berikutnya. Insya Allah