Al-Rayyan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:… وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ (رواه البخاري)

Hadits diterima dari Rasulullah Saw., ia bersabda, “…dan siapa yang termasuk ahlu al-shiyâm, ia akan dipanggil dari pintu Al-Rayyân” (HR. Bukhari)

The hadith received from the Prophet Saw., he said, “… and who is included ahlu al-shiyâm, he will be called from the door of Al-Rayyan” (Narrated by Bukhari)

Dalam riwayat Al-Jauzaqi dari sanad Abu Ghassan disebutkan, “Dalam surga ada delapan pintu. Diantaranya ada pintu yang disebut Al-Rayyân, tidak masuk dalam pintu ini kecuali orang-orang yang shaum. Disebutkan dalam riwayat Muslim dari Abu Bakar bin Abi Syaibah dari Khalid bin Makhlad, yaitu gurunya Imam Bukhari, “Apabila orang yang tidak masuk ahli shaum, maka pintu itu ditutup”. Sedangkan Imam Nasai dan Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dari sanad Sa’id bin Abdurrahman dan yang lainnya menambahkan, “Siapa yang masuk dan minum dalam surga Al-Rayyân, ia tidak akan pernah dahaga lagi”. (Fath Al-Bâri, 6:131)

In the history of Al-Jauzaqi from sanad of Abu Ghassan stated, ” There are eight doors in heaven. Among them there is a door called Al-Rayyan, are not enter in this door except the people who shaum”. Mentioned in the report which narrated by Muslim from Abu Bakr ibn Abi Khalid ibn Abi Shaybah of Makhlad, the teacher of Imam Bukhari, “If people who do not proper try to enter it, the door was closed”. While Imam Ibn Khuzaymah Nasai and narrated from Sa’eed ibn Abd and others added, “Who would entering and drink in Al-Rayyan, he will never thirst again”. (Fath al-Bari, 6:131)

Iklan

GEMPA TASIKMALAYA

GEMPA TASIKMALAYA DI BULAN SUCI

 

Allahu Akbar“, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un“, “Astaghfirullah“. Semua orang menjerit, memekik takbir, tahlil, dan istighfar. Seolah-olah tidak percaya bahwa siang yang begitu tenang itu diguncang gempa dahsyat berkekuatan 7.3 Skala Richter. Hampir seluruh pulau Jawa merasakan getaran dahsyatnya. Diantara beberapa daerah yang merasakan guncangannya itu, Cianjur adalah yang sangat parah. Laporan terakhir Badan Sigap Bencana dan Kecelakaan pada pukul 23.56 WIB, korban meninggal telah berjumlah 42 orang dan masih menunggu evakuasi korban yang ditelan longsor sejumlah kira-kira 42 orang lagi.

 

Di Garut, diantara daerah yang terkena guncangan ini, Kec. Pameungpeuk dan Kec. Cikelet, yang paling parah. Beberapa korban meninggal, ratusan rumah hancur total, dan ratusan lainnya retak parah. Di Cikelet, menurut tim survey kami ada sekitar +600 rumah, dua sekolah, satu mesjid yang rusak parah. Di Pameungpeuk –khususnya di daerah Mandala Kasih, Kp. Baru, menurut Jama’ah yang berada di sana, penduduk mengungsi ke tengah sawah kering dan membuat perkemahan di sana. Di dekat Pesantren kami, tepatnya di Mandalagiri-Pasar Baru-Ciledug, kerusakan banyak terjadi. Beberapa toko tua retak berat. Bahkan kaca mesjid pesantren kami hancur, galian ledeng patah, beberapa keramik halaman mesjid retak parah. Dan entah berapa lagi kerusakan yang dihasilkan gempa ini yang tidak tercatat oleh kemampuan manusia.

 

Jika melihat kejadian ini kita disadarkan betapa fananya sesuatu yang kita anggap menenangkan itu, ketika sekumpulan manusia berkejaran keluar dan menjauh dari rumah, gedung, mall, dan lain sebagainya. Bukankah sebelum kita merasa aman dalam rumah kita, merasa aman di gedung pencakar, merasa enjoy di mall-mall dibanding pasar rakyat. Namun kenapa kemarin seolah kita menyuarakan ijmâ’(kesepakatan) di alam bawah sadar kita, “Lebih aman di luar gedung!”. Hampir seluruh orang berhamburan keluar dari gedung-gedung dan mencari lapang terbuka, sawah kering, lapang sepakbola, jalan-jalan, yang penting bukan dalam ruangan! Ekspresi ketakutan berdenyut terus setelah gempa susulan bergetar kembali selama beberapa detik, dan ijmâ itu pun masih tidak berubah, “Rumah kita tidak aman!”.

 

Orang mukmin hatinya harus tergerak dan bergerak. Bukan saja tergerak terhadap para korban gempa itu, namun juga tergerak hatinya untuk meyakini, “BERSAMA ALLAH, KITA SELAYAKNYA MERASA AMAN. Bukan bersama harta, bukan bersama jabatan, kepintaran, anak-anak, dan lain sebagainya”. Sebab sehari-hari kita selalu meyakini dengan ungkapan-ungkapan, “Ah…dengan gaji sebesar ini, saya yakin bisa menikah dan memiliki rumah yang layak”, “Jika saya memiliki jabatan itu, saya bisa merubah segalanya”, “Dengan kemampuan yang saya miliki, persoalan pelik ini bisa saya selesaikan”, “Saya merasa tenang, anak-anak saya semuanya telah mendapatkan pekerjaan”, “Seandainya rumah mewah itu saya miliki, alangkah tenangnya hidup ini!”, serta ungkapan-ungkapan kesombongan lainnya yang seringkali tidak kita sadari!

MANUSIA-MANUSIA SYAWAL

MANUSIA-MANUSIA SYAWAL

Ramadhan adalah bulan Al-Quran, bahkan Rasulullah melakukan muraja’ah (mengevaluasi) Al-Quran dengan bimbingan Jibril a.s. secara langsung. Di bulan ramadhan pula para ulama melipatkan gandakan perhatiannya terhadap Al-Quran. Imam Syafi’i dan Imam Al-Bukhari sampai khatam dua kali sehari selama bulan ramadhan. Usman bin Affan pernah mengungkapkan, “Kita tidak pernah bosan dengan bacaan Quran”. (Ihyâ ‘Ulum Al-Din, 1:500). Allah berfirman, “Jika kalian mengetahui” (QS. Al-Baqarah, 184). Semangat itu dibangun oleh sebuah kesadaran, pengetahuan, dan keyakinan, bahwa dalam ramadhan tersimpan keberkahan yang berlimpah, pahala yang berlipat, dan kesempatan yang berganda. Wajarlah jika para sahabat berujar, “Seandainya seluruh bulan seperti Ramadhan!”.

Bagaimana dengan kita? Ketika masuk pada bulan ini, kita seharusnya dengan penuh kesadaran merasakan diri bergelimang dengan kealfaan dengan beragam penyakit yang bersarang dalam hati. Kealfaan menunaikan kewajiban shalat, kealfaan memperhatikan waktu shalat –meski tidak sampai meninggalkannya, atau kealfaan meninggalkan sunnah-sunnah harian (rawatib, shaum senin-kemis, tahajud, dll). Atau juga sadar akan busuknya hati kita yang sebelum Ramadhan selalu disibukkan oleh aib orang, iri oleh kebaikan-kebaikan yang diterima orang lain, selalu menuntut hak dari orang lain seraya mengabaikan kewajiban diri terhadap orang lain, tidak khusyu dalam shalat, tidak bersyukur dan terus menerus merasa kekurangan, hingga penyakit ri-â al-nâs (ingin dipuji orang) dan al-takabbur (sombong), bahkan –na’uzubillahi min dzalik, melakukan dosa-dosa besar seperti: menyekutukan Allah, durhaka kepada ibu bapak, berzina, dan membunuh. Ataukah kita sadar sesadar sadarnya bahwa diantara harta yang berupa rumah, mobil, perhiasan hingga televisi, komputer, handphone, dan makanan kita masih juga bercampur dengan unsur-unsur ribawi, syubhat, hasil mencuri/korupsi, dan upaya-upaya lain yang tidak diperkenankan oleh Islam.

Dengan sadar betapa kotornya kita, sangat naif jika kita tidak memiliki himmah (cita-cita), ghâyah (tujuan), dan iltizâm (tekad) untuk merubah diri, mensucikan hati, membersihkan harta, sehingga kelak ketika Syawal datang, ia menyambut kita sebagai manusia-manusia baru di bulan Syawal yang telah dibersihkan dari segala Dâ-un (penyakit) dan radhâ-il (kotoran). Ibrahim Al-Nakhai rahimahullâh seolah-olah merangkum aktivitas ramadhan sebagai obat hati yang berkesadaran itu. Ia pun berkata, “Obat hati ada lima perkara: membaca Al-Quran dengan penuh penghayatan, mengosongkan perut (shaum), qiyam al-lail (tahajud/tarawih), beristighfar di waktu shubuh, dan berkumpul bersama orang-orang shalih”. (Al-Tibyan, 46). Wa Allahu a’lam

English Version

Syawwal’s Humans

Ramadan is the month of the Qur’an, even the Prophet did muraja’ah (evaluate) the Qur’an with the guidance of Jibril directly. In month of ramadhan too, ulama took at double attention to the Qur’an. Imam Shafi’i and Imam al-Bukhari finished reading (khatam) Quran two times a day during the month of ramadan. Uthman ibn Affan had expressed, “We never get tired of reading the Koran”. (Ihya ‘Ulum al-Din, 1:500). Allah SWT said, “(That) If All of you know” (Surat al-Baqara, 184). Morale was built by an awareness, knowledge, and belief, that in ramadhan stored abundant blessing, doubled reward, and multiple opportunities. Naturally, the Sahabah’s Rasulullah Saw., said, “If the whole month as Ramadan”.
What about us now? When we signed this month, we ought to feel self-conscious, flush with the various diseases that nested in the heart. Negligent of duty, five time prayer, attention to time –even though not to leave it, or leave daily sunnah (sunnah rawatib, shaum tatawwhu, tahajud, etc.). Or also aware of the decay of our hearts which before Ramadan is always busy with people disgrace, envious of the benefits received by other people, always demanding the rights of others while ignoring the obligations of self to others, not khusyu in prayer, not grateful and continuously feel the lack, until the disease â ri-al-Nâs (praised people) and al-takabbur (over-pride), even –na’uzubillahi min dzalik, doing great sins such as: associating partners with Allah (musyrik), disobedience to the father’s mother, adultery, and kill. Or do we realize that among of the treasure houses, cars, jewelry to televisions, computers, mobile phones, and our food was also mixed with elements ribawi, syubhat, the stealing /corruption, and other efforts that are not permitted by Islam.
By realize how dirty we are, very naive if we do not have Himma (goals), ghâyah (aims), and iltizâm (determination) to transform themselves, to purify the heart (qulb), cleanse the property, so that later when Ramadhan came, he welcomed us as a new human beings –had been cleared of all Dâ-un (illness) and Radha-il (dirt). Ibrahim Al-Nakhai vol sums ramadan activities as a healing tools for illing heart. He also said, “there are five heart drugs case: reading the Qur’an with great appreciation, empty stomach/fasting (shaum), qiyam al-Lail (tahajud / tarawih), Istighfar at the fajr time, and hanging out with righteous people”. (Al-Tibyan, 46). Wa Allahu a’lam