A. MUQADDIMAH

Semangat Islam dan pesantren seolah menyatu dalam unsur-unsur yang berjalin kelindan. Antara ‘ulama dan mesjid, antara mesjid dan santri, antara santri dan kitab kuning, dan kitab kuning dengan torehan para ‘ulama, terjadi sebuah sinergitas yang tidak pernah terbayangkan oleh sistem pendidikan manapun. Sehingga wajar, pesantren-peseantren dalam rentang sejarahnya mampu mengantarkan subjek studi (santri-kiayi) begitu dekat melampaui penyekat ruang yang disebut kelas dan bangku (klasikal).

Dari pesantren, Islam sampai ke pelosok-pelosok yang penuh dengan dinamisme dan animisme. Dengan membawa watak damai sebagai bayang-bayang walisanga, difahami jika para ‘ulama Indonesia lebih mengambil sikap toleran, sejauh tidak bertentangan dengan prinsip tsawabit dalam Al-Quran dan Sunnah. Para kiayi juga berhasil membuat lembaran-lembaran pengajaran Islam di Asia Tenggara sejak abad ke-16 hingga abad ke-18. Baru setelah tahun 1910, pesantren mulai melakukan perubahan-perubahan dengan membuka kelas wanita dan mata pelajaran umum. Seperti juga diakui oleh sarjana lain, seperti Abdurrahman Mas’ud dan Azyumardi Azra, Dhofier membuktikan bahwa para ulama memiliki jaringan tak terbatas di Asia Tenggara bahkan hingga Asia Barat Daya, khususnya Mekkah, Mesir, dan Madinah. Di Jawa-Madura sendiri, para ulama memiliki hubungan genealogis dengan ulama lain seperti di Sumatra, Kalimantan dan lain-lain. Hubungan ini terjadi bukan karena kultur Indonesia tradisional, namun lebih merupakan kultur Pesantren itu sendiri yang dikunjungi oleh beragam etnis dan budaya yang disatukan dalam visi yang sama, yaitu Meninggikan Kalimah Allah.

Oleh sebab itu, Pesantren Persatuan Islam 19 Garut menyadari, bahwa pendidikan pesantren bukan saja teruji secara sistemik, namun juga teruju secara historis. Dalam menafsirkan kesadaran ini, kami pun mencoba menawarkan sesuatu yang ‘asing’ di tengah gemerlap teori-teori pendidikan yang berhamburan di setiap lembaga pendidikan. Kami mencoba menawarkan al-ruju’ ila al-diraasat al-islamiyyah, yaitu kembali kepada kajian-kajian Islam yang bersumber dari nilai dan semangat Al-Quran, menggali kembali kitab-kitab klasik ‘ulama salaf, dan mencoba medudukkannya bersama kajian-kajian kontemporer agar khazanah Islam yang agung dan mulia, dapat difahami, diamalkan dan didakwahkan. Insya Allah!

Wallah al-muwaffiq ila sabil al-huda

Wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Mudir Al-‘Am

Pesantren Persatuan Islam 19 Garut

H. Uban Subandi

%d blogger menyukai ini: