MANUSIA-MANUSIA SYAWAL

MANUSIA-MANUSIA SYAWAL

Ramadhan adalah bulan Al-Quran, bahkan Rasulullah melakukan muraja’ah (mengevaluasi) Al-Quran dengan bimbingan Jibril a.s. secara langsung. Di bulan ramadhan pula para ulama melipatkan gandakan perhatiannya terhadap Al-Quran. Imam Syafi’i dan Imam Al-Bukhari sampai khatam dua kali sehari selama bulan ramadhan. Usman bin Affan pernah mengungkapkan, “Kita tidak pernah bosan dengan bacaan Quran”. (Ihyâ ‘Ulum Al-Din, 1:500). Allah berfirman, “Jika kalian mengetahui” (QS. Al-Baqarah, 184). Semangat itu dibangun oleh sebuah kesadaran, pengetahuan, dan keyakinan, bahwa dalam ramadhan tersimpan keberkahan yang berlimpah, pahala yang berlipat, dan kesempatan yang berganda. Wajarlah jika para sahabat berujar, “Seandainya seluruh bulan seperti Ramadhan!”.

Bagaimana dengan kita? Ketika masuk pada bulan ini, kita seharusnya dengan penuh kesadaran merasakan diri bergelimang dengan kealfaan dengan beragam penyakit yang bersarang dalam hati. Kealfaan menunaikan kewajiban shalat, kealfaan memperhatikan waktu shalat –meski tidak sampai meninggalkannya, atau kealfaan meninggalkan sunnah-sunnah harian (rawatib, shaum senin-kemis, tahajud, dll). Atau juga sadar akan busuknya hati kita yang sebelum Ramadhan selalu disibukkan oleh aib orang, iri oleh kebaikan-kebaikan yang diterima orang lain, selalu menuntut hak dari orang lain seraya mengabaikan kewajiban diri terhadap orang lain, tidak khusyu dalam shalat, tidak bersyukur dan terus menerus merasa kekurangan, hingga penyakit ri-â al-nâs (ingin dipuji orang) dan al-takabbur (sombong), bahkan –na’uzubillahi min dzalik, melakukan dosa-dosa besar seperti: menyekutukan Allah, durhaka kepada ibu bapak, berzina, dan membunuh. Ataukah kita sadar sesadar sadarnya bahwa diantara harta yang berupa rumah, mobil, perhiasan hingga televisi, komputer, handphone, dan makanan kita masih juga bercampur dengan unsur-unsur ribawi, syubhat, hasil mencuri/korupsi, dan upaya-upaya lain yang tidak diperkenankan oleh Islam.

Dengan sadar betapa kotornya kita, sangat naif jika kita tidak memiliki himmah (cita-cita), ghâyah (tujuan), dan iltizâm (tekad) untuk merubah diri, mensucikan hati, membersihkan harta, sehingga kelak ketika Syawal datang, ia menyambut kita sebagai manusia-manusia baru di bulan Syawal yang telah dibersihkan dari segala Dâ-un (penyakit) dan radhâ-il (kotoran). Ibrahim Al-Nakhai rahimahullâh seolah-olah merangkum aktivitas ramadhan sebagai obat hati yang berkesadaran itu. Ia pun berkata, “Obat hati ada lima perkara: membaca Al-Quran dengan penuh penghayatan, mengosongkan perut (shaum), qiyam al-lail (tahajud/tarawih), beristighfar di waktu shubuh, dan berkumpul bersama orang-orang shalih”. (Al-Tibyan, 46). Wa Allahu a’lam

English Version

Syawwal’s Humans

Ramadan is the month of the Qur’an, even the Prophet did muraja’ah (evaluate) the Qur’an with the guidance of Jibril directly. In month of ramadhan too, ulama took at double attention to the Qur’an. Imam Shafi’i and Imam al-Bukhari finished reading (khatam) Quran two times a day during the month of ramadan. Uthman ibn Affan had expressed, “We never get tired of reading the Koran”. (Ihya ‘Ulum al-Din, 1:500). Allah SWT said, “(That) If All of you know” (Surat al-Baqara, 184). Morale was built by an awareness, knowledge, and belief, that in ramadhan stored abundant blessing, doubled reward, and multiple opportunities. Naturally, the Sahabah’s Rasulullah Saw., said, “If the whole month as Ramadan”.
What about us now? When we signed this month, we ought to feel self-conscious, flush with the various diseases that nested in the heart. Negligent of duty, five time prayer, attention to time –even though not to leave it, or leave daily sunnah (sunnah rawatib, shaum tatawwhu, tahajud, etc.). Or also aware of the decay of our hearts which before Ramadan is always busy with people disgrace, envious of the benefits received by other people, always demanding the rights of others while ignoring the obligations of self to others, not khusyu in prayer, not grateful and continuously feel the lack, until the disease â ri-al-Nâs (praised people) and al-takabbur (over-pride), even –na’uzubillahi min dzalik, doing great sins such as: associating partners with Allah (musyrik), disobedience to the father’s mother, adultery, and kill. Or do we realize that among of the treasure houses, cars, jewelry to televisions, computers, mobile phones, and our food was also mixed with elements ribawi, syubhat, the stealing /corruption, and other efforts that are not permitted by Islam.
By realize how dirty we are, very naive if we do not have Himma (goals), ghâyah (aims), and iltizâm (determination) to transform themselves, to purify the heart (qulb), cleanse the property, so that later when Ramadhan came, he welcomed us as a new human beings –had been cleared of all Dâ-un (illness) and Radha-il (dirt). Ibrahim Al-Nakhai vol sums ramadan activities as a healing tools for illing heart. He also said, “there are five heart drugs case: reading the Qur’an with great appreciation, empty stomach/fasting (shaum), qiyam al-Lail (tahajud / tarawih), Istighfar at the fajr time, and hanging out with righteous people”. (Al-Tibyan, 46). Wa Allahu a’lam

Perihal pesantrenpersis19garut
Memahami, Mengamalkan, dan Mendakwahkan Islam

2 Responses to MANUSIA-MANUSIA SYAWAL

  1. nurrahman18 mengatakan:

    ya, semoga hasilnya ramadhan akan terlihat dengan sukses di syawal..amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: