Marhaban Yaa Ramadhan

Ramadhan bulan penuh berkah itu segera akan datang. Sebagai tamu agung kita selayaknya mempersiapkan segala sesuatu yang disukai dan disenangi sang tamu agung. Sebaliknya juga kita harus menyingkirkan segala sesuatu yang tidak disukai dan disenangi sang tamu agung. Namun seringkali, banyak orang telah gagal menyambut tamu agung itu. Di bawah ini kami rangkum beberapa hal untuk mengetahui hal-hal yang dapat membuat tamu agung itu tidak suka.

TANDA GAGAL RAMADHAN

Kurang melakukan persiapan dibulan Sya’ban

Misalnya, tidak tumbuh keinginian melatih bangun malam dengan sholat tahajjud. Begitupun tidak melakukan puasa sunah Sya’ban, sebagaimana telah disunatkan Rasulallah SAW. Dalam hadits Bukhori dan Muslim, dari Aisyah RA berkata, “Saya tidak pernah melihat Rasul berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan, dan saya tidak pernah melihat beliau banyak berpuasa selain di bulan sya’ban.

Gampang mengulur shalat fardhu

“Maka datanglah sesdah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan kecuali orang-orang yang bertaubat dan beramal shalih”. (Maryam:59)

menuru Sa’id bin Musayyab, yang dimaksud dengan tarkush-shalat (meninggalkan shalat) ialah tidak segera mendirikan shalat tepat pada waktunya. Misalnya menjalankan shalat dzuhur menjelang waktu ashar, ashar menjelang maghrib, shalat maghrib menjelang isya, shalat isya menjelang waktu subuh serta tidak segera shalat subuh hingga terbit matahari.

Orang yang bershiam Ramadhan sangat disiplin menjaga waktu shalat, karena nilainya setara dengan 70 kali shalat fardhu di bulan lain.

Malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah

Termasuk didalamnya menjalankan shalat-lail. Mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah merupakan cirri orang yang shalih. “Seseungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdo’a kepada kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami”. (Al-Anbiya:90)

“Dan hamba-Ku masih mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, sampai Aku mencintainya”. (Hadits Qudsi)

Kikir dan rakus pada harta benda

Takut rui mengeluarkan banyak infaq dan shadaqah adalah tandanya. Salah satu sasaran utaman shiyam yaitu agar manusia mampu mengendalikan sifat rakus pada makan minum maupun pada harta benda, karena ia termasuk sifat kehewanan (Bahimiyah). Cinta dunia serta gelimang kemewahan hidup sering membuat manusia lupa akan tujuan hidup sesungguhnya. Mendekat kepada Allah SWT, akan menguatkan sifat utuma kemanusiaan (Insaniyah).

Malas membaca Al-Qur’an

Ramadhan juga disebut Syahrul Qur’an, bulan yang didalmnya diturunkan Al-Qur’an. Orang-orang shalih di masa lalu menghabiskan waktunya baik siang maupun malam Ramadhan untuk membaca Qur’an. “Ibadah umatku yang paling utama adalah pembacaan Al-Qur’an”. (HR Baihaqi) Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menimba dan menggali sebanyak mungkin kemuliaan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Kebiasaan baik ini harus nampak berlanjut setelah Ramadhan pergi, sebagai tanda latihan di bulan suci.

Mudah mengumbar amarah

Ramdhan adalah bulan kekuatan. Nabi SAW berkata : “Orang kuat bukanlah orang yang menang ketika berkelahi. Tapi orang kuat adalah orang yang bisa menguasai diri ketika marah”.

Dalam hadits lain beliau bersabda:” Puasa itu perisai diri, apabila salah seorang dari kamu berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan jangan membodohkan diri. Jika ada seseorang memerangimu atau mengumpatmu, maka katakanlah sesungguhnya saya berpuasa”. (HR Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah)

Gemar bicara sia-sia dan dusta

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta perbuatan  Az-Zur, maka Allah tidak membutuhkan perbuatan orang yang tidak bersopan santun, maka tiada hajat bagi Allah padahal dia meninggalkan makan dan minumnya”. (HR Bukhoti dari Abu Hurairah).

Kesempatan Ramadhan adalah peluang bagi kita untuk mengatur dan melatih lidah supaya senantiasa berkata yang baik-baik. Umar ibn Khattab Ra berkata: “Puasa ini bukanlah hanya menahan diri dari makandan minum saja, akan tetapi juga dari dusta, dari perbuatan yang salah dan tutur kata yang sia-sia”. (Al Muhalla VI:178)

Cirri orang gagal memetik buah Ramdhan kerap berkata dibelakang hatinya. Kalimat-kalimatnya tidak ditimbang secara masak:”Bicara dulu baru berfikir, bukan sebaliknya, berfikir dulu, disaring, baru biucapkan”.

Memutuskan tali silaturrahmi

Ketika menyambut datangnya bulan Ramadhan Rasulallah SAW bersabda: “….Barangsiapa menyambung tali persaudaraan (silaturrahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya….”

Puasa mendidik pribadi-pribadi untuk menumbuhkan jiwa kasih sayang dan tali cinta. Pelaku shiyam jiwanya dibersihkan dari kekerasan hati dan kesombongan, diganti dengan peringai yang lembut, halus dan tawadhu. Apabila ada atau tidak adanya Ramadhan tidak memperkuat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan, itu tanda kegagalan.

Manyia-nyiakan waktu

Al-Qur’an mendokumentasikan dialog Allah AWT dengan orang-orang yang menhabiskan waktu mereka untuk bermain-main.

“Allah bertanya:’Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab:’kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari. Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung’. Allah berfirman:’Kamu tidak tinggal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui’. Maka apakah kamu mengira sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan kamu tidak akan di kembalikan kepada Kami?. Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arsy yang mulia”. (Al-Mu’minum:112-116)

termasuk gagal dalam ber-Ramadhan orang yang lali atas karunia waktu dengan melakukan perbuatan sia-sia, kemaksiatan, dan hura-hura, disiplin waktu selama Ramadhan semestinya membekas kuat dalam bentuk cinta ketertiban dan keteraturan.

Labil dalam menjalani hidup

Labil alias perasaan gamang, khawatir, risau serta gelisah dalam mejalani hidup juga tanda gagal Ramadhan. Pesan Rasulallah SAW:”Sesungguhnya telah dating bulan Ramadhan yang penuh berkah. Allah telah memfardhukan atas kamu berpuasa di dalamnya. Dibuka semua pintu syurga, dikunci semua pintu neraka dan dibelenggu segala syetan. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tiada diberikan kebajikan malam itu, maka sungguh tidak diberikan kebajikan atasnya”. (HR Ahmad,Nasa’i,Baihaqi dari abu Hurairah). Bila seseorang meraih berkah bulan suci ini, jiwanya mantap, hatinya tenteram, perasaannya tenang dalam menghadapi apapun.

Tidak bersemangat mensyiarkan Islam

Salah satu cirri utama alumnus Ramadhan yangberhasil ialah tingkat taqwa yang meroket. Dan setiap orang yang ketaqwaannya semakin kuat ialah tercermin dalam semangat mensyiarkan Islam. Berbagai kegiatan ‘amar ma’ruf nahiy munkar dilakukannya, karena ia ingin sebanyak mungkin orang merasakan kelezatan iman sebagaimana dirinya. Jika semangat ini tidak ada, gagal lah Ramadhan seseorang.

Khianat terhadap amanah

Shiyam adalah amanah Allah yan harus dipeliharaha (dikerjakan) dan selanjutnya dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak. Shiyam itu ibarat utang yang harus ditunaikan secara rahasia kepada Allah. Orang yan terbiasa memenuhi amanah dalam ibadah sir (rahasia) tentu akan lebih menepati amanahnya terhadap orang lain, baik yang bersifat rahasia maupun nyata. Sebaliknya orang yang gagal Ramadhan mudah mengkhianati amanah, baik dari Allah maupun dari manusia.

Rendah motivasi hidup berjama’ah

Frekuensi shalat berjam’ah di masjid meningkat tajam selama Ramadhan. Selain itu lapar dan haus menajamkan jiwa sosial dan empati terhadap kesusahan sesama manusia, khususnya sesama Muslim. Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang berjuang secara berjama’ah, yang saling menguatkan.”Seseungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berpegang di jalan-Nya dalan satu barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh”.

(Ash-Shaf:4) Ramadhan seharusnya menuatkan motivasi untuk hidup berjama’ah.

Tinggi ketergantungannya pada makhluk

Hawa nafsu dan syahwat yang di gembleng habis-habisan selama bulan Ramadhan merupakan pintu utama ketergantungan manusia pada sesama makhluk. Jika jiwa seseorang berhasil merdeka dari kedua mitra syetan itu setelah Ramadhan, maka yang mengendalikan dirinya adalah fikrah dan akhlaq. Orang yang tunduk dan taat kepada Allah lebih mulia dari mereka yang tunduk kepada makhluk.

Malas membela dan menegakkan kebenaran

Sejumlah peperangan dilakukan kaum Muslimin melawan tentara-tentara kafir berlangsung di bulan Ramadhan. Kemenangan Badar yang spektakuler itu dan penaklukan Makkah (Futuh Makkah) terjadi di bulan Ramadhan. Di tengah gelombang kebathilan dan kemungkaran yang semakin berani unjuk gigi, para alumni akademi Ramadhan seharusnya semakin gigih dan strategis dalam membela dan menegakkan kebenaran. Jika bulan suci ini tidak memberi bekal perjuangan baru yang bernilai spektakulaer, maka kemungkinan besar ia telah gagal ber-Ramadhan, serta meninggalkan kita sebagai pecundang.

Tidak mencintai kaum dhuafa

Syahru Rahman, Bulan Kasih Sayang adalah nama lain dari Ramadhan, karena di bulan ini Allah melimpahi hamba-hamba-Nya dengan kasih sayang ekstra. Shiyam Ramadhan menanam benih kasih sayang terhadap orang-orang yang paling lemah di kalangan masyarakat. Faqir miskin, anak-anak yatim dan mereka yang hidup dalam kemelaratan. Rasa cinta kita terhadap mereka seharusnya bertambah. Jika cinta jenis ini tidak betambah sesudah bulan suci ini, berarti anda perlu segera instropeksi.

Salah dalam memahami akhir Ramadhan

Khalifah Umar ibn Abdul Aziz memerintahkan seluruh rakyatnya supaya mengakhiri puasa dengan memperbanyak istighfar dan memberikan shadaqah, karena istighfar dan shadaqah dapat menambal yang robek-robek atau yang pecah-pecah dalam puasa. Menginjak hari-hari berlalunya Ramadhan, mestinya kita semakin sering melakukan muhasabah (instropeksi) diri.

“Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(Al-Hasyr:18)

Sibuk mempersiapkan lebaran

Kebanyakan semua orang sering disibukkan oleh urusan lahir dan logistik menjelang Idul Fitri. Banyak yang lupa bahwa 10 malam terakhir merupakan saat-saat genting yang menentukan nilai akhir kita di mata Allah dalam bulan mulia ini. Menjadi pemenang sejati atau pecundang sejati. Konsentrasi pikiran telah bergeser dari semangat beribadah, kepada luapan kesenangan merayakan Idul Fitri dengan berbagai kegiatan. Akibatnya kita lupa. Seharusnya, muncul rasa sedih berpisah dengan bulan mulia ini.

Idul Fitri dianggap hari kebebasan

Secara harfiyah makna Idul Fitri berarti “Hari kembali ke fitrah”. Namun kebanyakan orang memandang Idul Fitri laksana hari dibebaskannya mereka dari “penjara” Ramadhan. Akibatnya, hanya beberapa saat setelah Ramadhan meningalkannya, ucapan dan tindakan cenderung tak terkendali, syahwat dan birahi diumbar sebanyak-banyaknya. Mereka lupa bahwa Idul Fitri seharusnya menjadi hari dimana tekad baru dipancangkan untuk menjalankan peran khalifah dan abdi Allah secara lebih professional. Kasadaran penuh akan kehidupan dunia yang berdimensi akhirat harus berada pada puncaknya saat Idul Fitri, dan bukan sebaliknya.

Perkara-perkara di atas itu wajib kita hindari agar tamu agung tersenyum kepada kita, memberikan kita berkah dan rahmat -bukan saja dalam bulan Ramadhan, namun pada bulan-bulan berikutnya. Insya Allah

Perihal pesantrenpersis19garut
Memahami, Mengamalkan, dan Mendakwahkan Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: