MANUSIA BERUNTUNG

Oleh : Ade Nurdin*)

REPUBLIKA.CO.ID,–Dalam bahasa Arab, kata al-falaah berasal dari al-falh yang artinya petani. Sedangkan falaha maknanya menunjukkan pada aktivitas yang dilakukan petani, yaitu mencangkul, menggali tanah, atau membuat lubang di tanah untuk menyimpan benih. Menurut ahli bahasa Arab maknanya sama dengan al-syaqq, yaitu membelah. (Shafwah Al-Tafaasiir [1])

Kata muflih, diterjemahkan dengan orang-orang beruntung atau memperoleh apa yang dimohon, adalah karena melihat proses yang biasa dilakukan oleh petani, di antaranya menyiram dan memberi pupuk. Pekerjaan ini biasanya dilakukan terus-menerus sehingga untuk sampai kepada waktu panen membutuhkan waktu yang cukup lama.

Selain itu, bisa juga dipahami bahwa yang dimaksud al-muflih adalah orang yang berusaha secara konsisten menanam benih amal saleh di dunia, kemudian menjaga dan menyuburkannya sehingga dia memperoleh hasilnya di akhirat nanti, yaitu mendapatkan surga dan selamat dari neraka.

Lawan dari kata al-falh adalah al-kuffar. Maknanya juga petani, tetapi dalam aktivitas yang lain. Menurut ahli bahasa, kata al-kuffar maknanya adalah al-ghithaa’ yang berarti menutup, yakni menimbun benih dengan tanah. Berdasarkan uraian ini, bisa disimpulkan bahwa aktivitas al-falh dan al-kuffar merupakan dua aktivitas yang berlawanan, yaitu pertama menggali lubang dan yang kedua menutup lubang.

Karena itu, orang yang muflih adalah orang yang senantiasa membuka pintu rahmat Allah SWT. Apa pun yang dikerjakannya semata-mata untuk mencari karunia dan rahmat Allah SWT. Maka, apabila karakter muflih ini bersemayam pada diri seorang pemimpin, niscaya ia akan menggunakan kemampuannya untuk mencari solusi terbaik dalam menyelesaikan setiap masalah. Dalam persoalan bangsa, ia akan menggunakan potensinya untuk mewujudkan negeri yang aman dan diridai oleh Allah SWT.

Karena itu, yang dibutuhkan bangsa ini adalah orang-orang yang senantiasa menggunakan kemampuannya untuk perbaikan, bukan manusia-manusia yang hanya memikirkan kekuasaan, kekayaan, jabatan, atau popularitas. Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang memiliki keyakinan bahwa apa yang dilakukannya nantinya akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Itulah manusia yang muflih (beruntung), yaitu mereka yang beriman kepada Allah, Alquran, hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat. Mereka adalah orang yang senantiasa menggali potensi untuk mewujudkan kemaslahatan dan kebaikan, bukan menciptakan kemungkaran dan kerusakan. Wallahu A’lam.

*) Penulis adalah tenaga pengajar dan Wakil Mudir Kurikulum Tingkat Tsanawiyyah, Pesantren Persis 19 Garut

MAKNA KEMERDEKAAN UNTUK PARA GURU

Oleh: Ade Nurdin

Sertifikasi guru merupakan salah satu usaha pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan bangsa kita  yang sedang terpuruk. Saat ini raport pendidikan kita ditingkat internasional sangat buruk. Bahkan, jauh tertinggal oleh negara tetangganya, yaitu Malasyia yang konon, dulu sangat membutuhkan guru dari negeri kita. Katanya, dulu  guru-guru dari negeri kita banyak yang mengajar di sana. Benar-benar sebuah penghargaan yang sangat baik.

Dalam pandangan pemerintah, salah satu penyebab keterpurukan ini adalah  kualitas guru yang sangat rendah. Mereka miskin metoda pengajaran dan informasi tentang perkembangan dunia pendidikan yang sedang terjadi di dunia luar. Akibatnya, cakrawala pemikiran para pelajar pun ikut tertinggal. Bahkan, jauh tertinggal dari para gurunya. Padahal, mereka akan mengalami zaman yang tidak dialami oleh  gurunya. Sebuah zaman yang diramalkan akan menghanyutkan manusia buta pendidikan ke samudra keterbelakangan dan gelombang keterpurukan.

Adapun salah satu penyebab keterbelakangan para guru, masih menurut pemerintah kerena  penghargaan kepada mereka yang sangat tidak layak. Penghasilan para guru sangat minim. Kehidupan mereka tidak atau kuarang terjamin. Dampaknya, bagi para guru daripada memikirkan cara mengajar agar anak didiknya berhasil lebih baik mencari tambahan pengahasilan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Dengan ketidaklayakan ini banyak guru yang enggan melakukan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Tugas mengajar sangat tidak terpogram dan asal-asalan. Pokoknya, tidak ada usaha untuk meningkatkan mutu profesi keguruannya. Hal ini berimplikasi terhadap ketidaktahuan dan keengganan guru untuk mencari alternatif-alternatif pengajaran ketika sulit mengajarkan salah satu bahan ajar.

Adapun kreativitas mencari alternatif-alternatif tersebut dapat diperoleh sang guru dibangku pendidikan yang tinggi.  Oleh karena itu, tanpa sekolah yang tinggi para guru akan banyak menghadapi masalah yang sulit ketika di lapangan menghadapi anak didiknya.

Oleh karena itu, pemerintah merasa perlu meningkatkan taraf hidup dan pendapatan mereka. Adapun salah satu cara yang ditempuh pemerintah adalah sertifikasi.  Solusi di atas bisa dikatakan benar bila penyebab utama hilangnya kualitas para guru  dalam mencerdaskan generasi bangsanya adalah faktor keterbelakangan ekonomi. Sebab, mau kuliah bagaimana apabila gajih mereka pas-pasan.

Rencana pemerintah ini ternyata membawa perubahan. Buktinya, mayoritas  guru kini telah berada di bangku kuliah. Bahkan yang sudah duduk di bangku kuliah, punya tuntunan melanjutkan ke jenjang berikutnya. Seminar-seminar tentang pendidikan diadakan dimana-mana. Bahkan, sertifikat-sertifikat penataran  dan seminar pendidikan laku keras, sehingga membawa berkah bagi para penyelenggara. Bahkan obrolan hangat para guru saat ini adalah sekitar persoalan sertifikasi.

Namun, benarkah program pemerintah ini akan mampu mendongkrak kualitas pendidikan kita, paling tidak mendekati negara tetangganya itu? Mungkin jawabannya tidak bisa hari ini, karena program ini untuk jangka panjang. Walaupun demikian, ada  yang harus diperhatikan dan diwaspadai, jangan-jangan dengan sertifikasi  bukan meningkatnya kualitas pendidikan, karena para gurunya sudah banyak menguasai metoda pengajaran dan mempraktekannya dilapangan. Tetapi justru sebaliknya, para guru yang belum lolos disibukkan  mengurus persyaratan administrasinya dan mengumpulkan point sebanyak-banyaknya agar bisa mencapai target. Sedangkan guru yang sudah lolos  terninabobokan dengan pendapatannya hari ini dan ingin terus menigkatkannya. Kalau sudah demikian, idealisme kebangsaan kita akan terkikis habis dan digantikan oleh fikiran  dan keinginan pragmatis untuk mencari keuntungan semata. Selain itu, dalam angan-angannya tidak ada secercah keinginan pun untuk mengangkat mutu pendidikan anak bangsa ini. Padahal idealisme itulah yang dulu pernah mengangkat martabat pendidikan bangsa ini yang sekaligus mengangkat martabat pemilik bangsanya  di mata dunia.

Oleh karena itu, peringatan hari kemerdekaan tahun ini harus dijadikan awal kemerdekaan bagi para guru untuk melaksanakan idealisme ini, serta menjauhkannya dari sekat-sekat keinginan pragmatis yang akan mengganggu dan menghancurkannya.

*) Diterbitkan di Pikiran Rakyat (Forum Guru, 26 Agustus 2010)

SKRIPSI TENTANG PESANTREN BENTAR

Bismillah,

Skripsi berjudul Pola Pendidikan Islam: Suatu Kajian Historis Terhadap Pesantren Persis Bentar di Kabupaten Garut Tahun 1967-1988, sudah ditulis oleh Sdri. NURLELA di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Berikut kami lampirkan abstraksinya,

Skripsi ini berjudul “Pola Pendidikan Islam: Suatu Kajian Historis Terhadap Pesantren Persis Bentar di Kabupaten Garut Tahun 1967-1988″. Masalah utama yang dibahas dalam skripsi ini adalah mengenai bagaimana pola pendidikan Islam yang diterapkan Pesantren Persis Bentar. Masalah utama tersebut kemudian dibagi menjadi 3 pertanyaan penelitian, yaitu 1) bagaimana latar belakang berdirinya Pesantren Persis Bentar di Kabupaten Garut, 2) bagaimana kurikulum dan implementasi pendidikan Pesantren Persis Bentar tahun 1967-1988 dan 3) bagaimana gambaran kehidupan Pesantren Persis Bentar yang mencakup pondok, mesjid, kiai, santri, sarana pendidikan pesantren dan persepsi santri dan orang tua santri terhadap pendidikan Pesantren Persis Bentar.

Skripsi ini menggunakan metode historis mengingat bahwa data dan fakta yang dibutuhkan berasal dari masa lampau, sehingga perlu diuji dan dianalisis tingkat kebenarannya agar kondisi yang terjadi pada masa lalu dapat tergambarkan dengan jelas. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam metode ini adalah heuristik, kritik serta penulisan dan interpretasi sejarah (historiografi). Dalam penulisan skripsi ini, penulis mendapat bantuan dari pendekatan dan konsep-konsep ilmu pendidikan seperti kurikulum, metode, materi, evaluasi, jenjang pendidikan dan sebagainya. Kegiatan pengumpulan sumber dan data penelitian, selain menggunakan studi literatur, digunakan juga wawancara terhadap narasumber, baik pelaku maupun saksi sejarah.

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa berdirinya Pesantren Persis Bentar di Kabupaten Garut dilatarbelakangi oleh lahirnya organisasi Persatuan Islam (Persis) cabang Garut. Selain membuka cabang, tokoh-tokoh Persatuan Islam seperti Komaruddin AS, Zaenuddin Masdiani, Syihabuddin dan Zamaluddin membuka Pesantren Persis Bentar. Pesantren Persis Bentar didirikan pada tahun 1967. Tujuan pendidikan pesantren adalah mencetak kader-kader mubaligh Persis yang mampu menyebarkan ajaran-ajaran Islam kepada masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut, materi agama di pesantren masih tetap mendominasi. Dari sejak awal Pesantren Persis Bentar sudah menerapkan sistem penjenjangan kelas secara klasikal. Begitu pula dengan metode pengajaran di kelas tidak lagi menggunakan metode sorogan dan bandongan. Sistem evaluasi yang diterapkan sudah terencana.

Seiring dengan masuknya unsur-unsur baru (modern) tersebut, Pesantren Persis Bentar dapat dikategorikan sebagai pesantren khalafi (pesantren modern). Meskipun demikian, unsur-unsur dari tradisi pesantren seperti pondok, mesjid, pengajaran kitab-kitab klasik, kiai dan santri masih tetap dipertahankan. Sarana penunjang pendidikan yang terdapat di Pesantren Persis Bentar adalah pondok, mesjid, madrasah (ruang kelas) dan perpustakaan. Pada tahun 1988 banyak perubahan dan penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan oleh Pesantren Persis Bentar terutama dalam kurikulum pendidikannya turut serta mempengaruhi orientasi pendidikan Pesantren. Dengan demikian, sampai tahun 1988, Pesantren Persis Bentar dapat dikatakan sebagai masa format awal dan pemapanan model pesantren yang diselenggarakan Persatuan Islam Cabang Garut dari mulai Diniyyah Ula, Tsanawiyyah, Tajhiziyyah sampai Muallimin.

Namun sayangnya, file *.pdf nya hanya bisa diwonload di lingkungan UPI saja, jika didownload akan muncul peringatan sebagai berikut:

Mohon maaf, akses data Full Text hanya diperkenankan dari dalam jaringan (Intranet) Gedung Perpustakaan UPI, sekiranya memerlukan informasi dapat menghubungi Riki Nuryadin dengan email cukil_riki@yahoo.co.id atau staf Perpustakaan UPI di no tlp: +62-22-2019487

Demikian, semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum

Admin

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.